Penelitian tentang pergaulan bebas pada remaja
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Remaja merupakan salah satu tahap dalam kehidupan dari masa kanak-kanak kemasa dewasa, suatu tahap perkembangan sudah dimulai namun yang pasti setiap laki-laki maupun perempuan akan mengalami suatu perubahan-perubahan yang terjadi pada remaja adalah munculnya dorongan-dorongan seks, perasaan yang terjadi pada remaja menimbulkan berbagai bentuk ekspresi hubungan seks (Pangkahila, 1998). Sudut pandang kesehatan masalah yang sangat mengkhawatirkan pada masa kelompok usia remaja adalah masalah yang berkaitan dengan seks bebas (unprotected sexuality), penyebaran Penyakit Menular Seksual (PMS), kehamilan diluar nikah atau kehamilan yang tidak diinginan dari kalangan remaja (adolocent unwanted Pregnancey) dan aborsi yang tidak aman (Laksmiwati, 1999).
Dikalangan remaja telah terjadi revolusi dalam hubungan seksual menuju kearah liberalisasi tanpa batas. Kebanggaan terhadap kemampuan untuk mempertahankan kegadisan sampai pada pelaminan telah sirna, oleh karena kedua belah pihak saling menerima kedudukan baru dalam seni pergaulan hidupnya. Informasi yang cepat dalam berbagai bentuk telah menyebabkan dunia semakin menjadi milik remaja. Informasi tentang kebudayaan hubungan seksual telah mempengaruhi kaum remaja Indonesia, sehingga telah tejradi suatu revolusi yang menjurus makin bebasnya hubungan seksual pranikah (Manuaba, 1998). Data demografi menunjukkan bahwa remaja merupakan populasi yang besar dari penduduk dunia menurut Worl Health Organization (WHO) pada tahun 1995 sekitar seperlima dari penduduk dunia adalah remaja berumur 10-19 tahun.
Sektiar 900 juta berada dinegara sedang berkembang. Data demografi di Amerika Serikat (1990) menunjukkan jumlah remaja berumur 10-19 tahun sekitar 15% populasi. Jumlah penduduk di Asia Pasifik merupakan 60% dari penduduk dunia, seperlimanya adalah remaja umur 10-19 tahun. Menurut Biro Pusat Statistik (1999) di Indonesia kelompok umur 10-19 tahun adalah sekitar 22%, yang terdiri dari 50,9% remaja laki-laki dan 49,1% remaja perempuan (Seotjiiningsih, 2004). Praktik seks bebas (free sex) yang menjalar dikalangan remaja zaman sekarang telah menjadi problem serius. Berubahnya orientasi seks dari sesuatu yang sangat pribadi dan tertutup lalu kini dibuka lebar-lebar, seolah menjadi fenomena umum remaja modern. Mereka menjadi begitu permisif untuk saling menyentuh, bergandengan, berpelukan, Petting (bercumbu tanpa melakukan coitus) dan bahkan bersenggama dengan lawan jenis. Memang tidak semua remaja melakukan hal itu (www.pikiran-rakyat.com) Kasus Infeksi Menular Seksual (IMS) di Amerika Serikat yang dilaporkan setahunnya terjadi 20 juta kasus IMS, 30% adalah remaja, dan lebih dari 50% merupakan kelompok remaja dan dewasa muda yaitu umur dibawah 25 tahun.
Hampir diseluruh Inggris terjadi peningkatan insidensi IMS dan terjadi terutama pada kelompok remaja. Pada tahun 2000, dari seluruh infeksi klamidia tercatat 34% dan 40% dari Ghonorhoe pada perempuan dewasa, terdapat pada remaja perempuan. Berbagai laporan di Indonesia menunjukkan bahwa kelompok umur paling banyak menderita IMS adalah kelompok umur muda. Selama 2 tahun (1993-1994) di Rumah Sakit Pringadi Medan untuk penyakit kondiloma akuminata tercatat 35,4% adalah penderita kelompok umur 20-24 tahun, 33,3% dari kelompok umur 25-29 tahun. Selama 4 tahun (1990-1994) di Rumah Sakit Dr.Kariadi Semarang tercatat 3803 kasus IMS pada unit rawat jalan,1325 kasus(38,8%) adalah penderita umur 15-24 tahun,dan tercatat 1768 orang (46,5%) adalah umur 25-34 tahun.
Demikian juga halnya di Rumah Sakit Umum Pemerintah Sanglah Denpasar, tercatat 59,1% dari penderita IMS yang tercatat antara tahun 1995-1997 adalah kelompok remaja. (Soetjiningsih, 2004) Berdasarkan penelitian di berbagai kota besar di Indonesia, sekitar 20%-30% remaja mengaku pernah melakukan hubungan seks. Ancaman pola hidup seks bebas remaja secara umum baik dipondokan atau kos-kosan tampaknya berkembang semakin serius. Pakar seks di Jakarta mengungkapkan, dari tahun ke tahun data remaja yang melakukan hubungan seks bebas semakin meningkat. Dari sekitar 5% pada tahun 1980-an, menjadi 20% pada tahun 2000. Kisaran angka tersebut, menurut Dr.Boyke, dikumpulkan dari berbagai penelitian dibeberapa kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, Palu, dan Banjarmasin. Bahkan di Pulau Palu, Sulawesi Tenggara, pada tahun 2000 lalu tercatat remaja yang pernah melakukan hubungan seks pra nikah mencapai 29,9%. (Majalah Gemari, 2001) Dilihat dari sisi kesehatan, bahaya perilaku seks bebas bisa menimbulkan berbagai gangguan. Diantaranya, terjadi kehamilan yang tidak diinginkan. Selain tentunya kecenderungan untuk aborsi, juga menjadi salah satu penyebab munculnya anak-anak yang tidak diinginkan.
Seks bebas juga bisa meningkatkan resiko kanker mulut rahim. Jika hubungan seks tersebut dilakukan sebelum usia 17 tahun, resiko terkena penyakit tersebut bisa mencapai empat hingga lima kali lipat. Selain itu, bahaya seks bebas akan meningkatkan kasus penyakit menular seksual, seperti sipilis, Ghonorhoe (GO), hingga Humman Immunodeficiency Virus (HIV) atau Acquired Immune Deficiency Syndrom (AIDS). (Majalah Gemari, 2001). Hasil survey yang dilakukan peneliti pada tanggal 18 Februari di SMA Negeri 2 Bulukumba menunjukkan bahwa pengetahuan siswa tentang bahaya seks bebas dalam kategori cukup atau 57 %.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah maka penulis mengambil Rumusan Masalah yaitu “Bagaimanakah pengetahuan dan sikap remaja tentang bahaya seks bebas di SMA Negeri 2 Bulukumba?”
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum Adapun tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengetahuan dan sikap remaja tentang bahaya seks bebas di SMA Negeri 2 Bulukumba
2. Tujuan Khusus Dengan memperhatikan masalah dan permasalahan dikemukakan diatas maka tujuan khusus dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Diketahuinya pengetahuan remaja tentang bahaya seks bebas di SMA Negeri 2 Bulukumba
b. Diketahuinya sikap remaja tentang bahaya seks bebas di SMA Negeri 2 Bulukumba
D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi:
1. Bagi Remaja Untuk menambah pengetahuan dan pemahaman bagi remaja tentang bahaya seks bebas.
2. Bagi Negeri 2 Bulukumba Dengan adanya penelitian ini maka penulis berharap bahwa penelitian ini akan bermanfaat dan berguna untuk dijadikan bahan masukan bagi penelitian selanjutnya.
3. Bagi Peneliti Selanjutnya Sebagai sumber referensi dan bacaan untuk peneliti selanjutnya dalam kaitannya dengan pengetahuan dan sikap remaja tentang bahaya seks bebas.
BAB II
Kajian pustaka
a. Pengertian Pergaulan Bebas
Seks bebas merupakan tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual yang ditujukan dalam bentuk tingkah laku. Faktor-faktor yang menyebabkan seks bebas karena adanya pertentangan dari lawan jenis, adanya tekanan dari keluarga dan teman. Dari tahun ke tahun data remaja yang melakukan hubungan seks bebas semakin meningkat, dari 5% ada tahun 1980-an menjadi 20% di tahun 2010. telah dilakukan penelitian mengenai gambaran pengetahuan remaja tentan seks bebas di SMA Negeri 2 Bulukumba
Penelitian ini menggunakan kuesioner yang diajukan responden dengan jumlah sampel 50 responden. Hasil penelitian yang terlibat pergaulan tidak baik sebanyak 50,9% sedangkan remaja yang memperoleh sumber informasi tentang seks bebas sebanyak 47,6% dan remaja yang keadaan ekonominya baik sebanyak 35,6% serta remaja yang berpengetahuan cukup tentang seks bebas sebanyak 43% sedangkan baik dan kurang masing-masing sebanyak 28,5%.
Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kurangnya pengetahuan remaja tentang seks bebas disebabkan karena kurangnya kesadaran remaja tentang keadaannya dan tidak ada keterbukaan antara orang tua dan anaknya.
Munculnya istilah pergaulan bebas seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan tekhnologi dalam peradaban umat manusia, kita patut bersyukur dan bangga terhadap hasil cipta karya manusia, karena dapat membawa perubahan yang positif bagi perkembangan/kemajuan industri masyarakat. Tetapi perlu disadari bahwa tidak selamanya perkembangan membawa kepada kemajuan, mungkin bisa saja kemajuan itu dapat membawa kepada kemunduran. Dalam hal ini adalah dampak negatif yang diakibatkan oleh perkembangan iptek, salah satunya adalah budaya pergaulan bebas tanpa batas.
Dilihat dari segi katanya dapat ditafsirkan dan dimengerti apa maksud dari istilah pergaulan bebas. Dari segi bahasa pergaulan artinya proses bergaul, sedangkan bebas artinya terlepas dari ikatan. Jadi pergaulan bebas artinya proses bergaul dengan orang lain terlepas dari ikatan yang mengatur pergaulan.
Islam telah mengatur bagaimana cara bergaul dengan lawan jenis. Hal ini telah tercantum dalam surat An-Nur ayat 30-31. Telah dijelaskan bahwa hendaknya kita menjaga pandangan mata dalam bergaul. Lalu bagaiamana hal yang terjadi dalam pergaulan bebas? Tentunya banyak hal yang bertolak belakang dengan aturan-aturan yang telah Allah tetapkan dalam etika pergaulan. Karena dalam pergaulan bebas itu tidak dapat menjamin kesucian seseorang.
b. Remaja
Remaja dalam arti bahasa latin adalah adolescere yang berarti "tumbuh" dan dalam arti kata adalah tahap transisi fisik dan mental. Menurut Erik Erikson tahap – tahap perkembangan manusia, misalnya, seorang dewasa muda umumnya orang antara usia 20 dan 40, sedangkan seorang remaja adalah orang antara usia 13 dan 19. Secara historis, pubertas telah banyak dikaitkan dengan remaja dan awal pembangunan remaja. Namun, awal pubertas memiliki sedikit dari peningkatan preadolescence (terutama perempuan, seperti terlihat dengan puberitas dini dan dewasa sebelum waktunya ), dan remaja telah memiliki ekstensi sesekali luar masa remaja (biasanya pria) dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Perubahan ini telah membuat lebih sulit untuk kaku menentukan kerangka waktu di mana remaja terjadi. Pubertas adalah masa beberapa tahun yang pertumbuhan fisik yang cepat dan perubahan psikologis terjadi, yang berpuncak pada kematangan seksual. Onset rata-rata pubertas adalah pada 10 untuk anak perempuan dan usia 12 untuk anak laki-laki
BAB III
Metode penelitian
A. Lokasi penelitian
Lokasi penelitian bertempat di kampus SMA NEGERI 2 BULUKUMBA.
B. Populasi dan sampel
Menentukan Populasi dan Sampel Populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang dapat berupa manusia, benda dan sebagainya yang menjadi objek penelitian.Dapat disimpulkan bahwa populasi adalah semua anggota kelompok manusia atau individu, yang merupakan objek dari suatu penelitian. Dalam penelitian ini, peneliti mengambil populasi sebagai daerah peneliti yaitu semua SMA NEGERI 2 BULUKUMBA. Dari populasi ini jumlahya sanagatlah banyak, bahkan puluhan siswa karena ini adalah populasi siswa SMA NEGARI 2 BULUKUMBA.
C. Tehnik pengumpulan data
Sampel adalah sebagian yang diambil dan keseluruhan dari objek yang sedang diteliti, yang mewakili seluruh populasi dengan memakai atau menggunakan teknik tertentu. Berdasarkan uraian diatas, tidak semua SMA NEGERI 2 BULUKUMBA dijadikan Sampel. Maka peneliti mengambil salah satu sampel yaitu Siswa-siswi SMA NEGERI 2 BULUMBA, karena mereka dianggap bisa mewakili dari SMA NEGERI 2 BULUKUMBA. Sebab mereka dikategorikan Siswa-Siswi yang sangat teladan.
D. Teknik analisis data
Dalam memperoleh data dari para sumber berita, teknik penelitian yang saya gunakan ialah Teknik ini dilakukan dengan cara mewawancarai seorang teman tersebut. Langkah yang ditempuh agar mendapatkan informasi dari Narasumber secara detail.
1)Membuat perbincangan Awal dengan seorang teman tersebut sambil menciptakan suasana yang hangat.
2)Mulai memberi pertanyaan dengan bahasa yang sopan dan tidak menyinggung perasaan orang yang sedang diwawancarai.
3)Mulai membuat dan menyusun data untuk laporan penelitian berdasarkan keterangan yang teleh di jelaskan oleh Narasumber.
4)Menghitung prosentase pendapatan Narasumber yang setuju atas ajakan untuk meningkatkan mutu remaja, agar tidak banyak yang terjerumus ke pergaulan yang bebas. Narasumber yang saya wawancarai sebanyak 4 orang, dan yang setuju dengan pendapat saya sebanyak 3 orang. Rumus yang digunakan adalah Jumlah narasumber yang di wawancarai dibagi dengan jumlah Narasumber yang setuju dan dikalikan dengan 100% 5/3 x100%= 166,67%
BAB IV
HASIL DAN PENGEMBANGAN PENELITIAN
A. Hasil Penelitian. Kita tentu tahu pergaulan bebas itu adalah salah satu bentuk perilaku yang menyimpang , yang mana "bebas" itu dimaksud melewati batas-batas norma ketimuran yang ada. Masalah pergaulan bebas ini sering kita dengar baik di linkungan maupun di media masa. Remaja adalah individu yang labil emosinya rentan tidak terkontrol oleh pengendalian diri yang benar. Masalah Keluarga,kekecewaan, dan ajakan-ajakan teman yang bergaul bebas makin berkurangnya potensi generasi muda Indonesia dalam kemajuan bangsa.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pada dasarnya kesimpulan pergaulan bebas itu adalah Tergantung pada remaja itu sendiri, kalau dia melakukan pergaulan bebas atau tidak. Jika para generasi muda menginginkan perubahan sebaiknya mereka memiliki bimbingan untuk melakukan hal yang memang patut mereka lakukan. Itu semua kembali pada diri tiap remaja itu masing-masing dan juga dukungan dari lingkungan baik itu dari keluarga,masyarakat,dan juga sekolah. Karena perubahan itu memerlukan dukungan dari seseorang yang sayang sama kita. Terutama dari orang tua kita. Semua orang pasti butuh kasih sayang dari orang tua.
B. Saran
Bagi para pembaca marilah kita bersama-sama ikut adil dalam menerapkan "Hidup gaul tanpa HIV/AIDS, baik dengan menjadi individu yang menjauhi pergaulan bebas dan juga dalam memotivasi kepada orang-orang di sekeliling kita. Dalam hal ini media massa juga menampilkan hal-hal positif yang perlu dilakukan. Bukan malah menampilkan flim-flim yang menunjukkan hebohnya gemerlap dunia malam dan maraknya pergaulan bebas yang disalah tafsirkan merupan suatu kebanggaan para remaja. Sehingga hal tersebut menjadi makanan sehari-hari. Semua pihak perlu berperan untuk menanamkan "gaul tanpa HIV/AIDS." Terutama diri kita sendiri.
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Remaja merupakan salah satu tahap dalam kehidupan dari masa kanak-kanak kemasa dewasa, suatu tahap perkembangan sudah dimulai namun yang pasti setiap laki-laki maupun perempuan akan mengalami suatu perubahan-perubahan yang terjadi pada remaja adalah munculnya dorongan-dorongan seks, perasaan yang terjadi pada remaja menimbulkan berbagai bentuk ekspresi hubungan seks (Pangkahila, 1998). Sudut pandang kesehatan masalah yang sangat mengkhawatirkan pada masa kelompok usia remaja adalah masalah yang berkaitan dengan seks bebas (unprotected sexuality), penyebaran Penyakit Menular Seksual (PMS), kehamilan diluar nikah atau kehamilan yang tidak diinginan dari kalangan remaja (adolocent unwanted Pregnancey) dan aborsi yang tidak aman (Laksmiwati, 1999).
Dikalangan remaja telah terjadi revolusi dalam hubungan seksual menuju kearah liberalisasi tanpa batas. Kebanggaan terhadap kemampuan untuk mempertahankan kegadisan sampai pada pelaminan telah sirna, oleh karena kedua belah pihak saling menerima kedudukan baru dalam seni pergaulan hidupnya. Informasi yang cepat dalam berbagai bentuk telah menyebabkan dunia semakin menjadi milik remaja. Informasi tentang kebudayaan hubungan seksual telah mempengaruhi kaum remaja Indonesia, sehingga telah tejradi suatu revolusi yang menjurus makin bebasnya hubungan seksual pranikah (Manuaba, 1998). Data demografi menunjukkan bahwa remaja merupakan populasi yang besar dari penduduk dunia menurut Worl Health Organization (WHO) pada tahun 1995 sekitar seperlima dari penduduk dunia adalah remaja berumur 10-19 tahun.
Sektiar 900 juta berada dinegara sedang berkembang. Data demografi di Amerika Serikat (1990) menunjukkan jumlah remaja berumur 10-19 tahun sekitar 15% populasi. Jumlah penduduk di Asia Pasifik merupakan 60% dari penduduk dunia, seperlimanya adalah remaja umur 10-19 tahun. Menurut Biro Pusat Statistik (1999) di Indonesia kelompok umur 10-19 tahun adalah sekitar 22%, yang terdiri dari 50,9% remaja laki-laki dan 49,1% remaja perempuan (Seotjiiningsih, 2004). Praktik seks bebas (free sex) yang menjalar dikalangan remaja zaman sekarang telah menjadi problem serius. Berubahnya orientasi seks dari sesuatu yang sangat pribadi dan tertutup lalu kini dibuka lebar-lebar, seolah menjadi fenomena umum remaja modern. Mereka menjadi begitu permisif untuk saling menyentuh, bergandengan, berpelukan, Petting (bercumbu tanpa melakukan coitus) dan bahkan bersenggama dengan lawan jenis. Memang tidak semua remaja melakukan hal itu (www.pikiran-rakyat.com) Kasus Infeksi Menular Seksual (IMS) di Amerika Serikat yang dilaporkan setahunnya terjadi 20 juta kasus IMS, 30% adalah remaja, dan lebih dari 50% merupakan kelompok remaja dan dewasa muda yaitu umur dibawah 25 tahun.
Hampir diseluruh Inggris terjadi peningkatan insidensi IMS dan terjadi terutama pada kelompok remaja. Pada tahun 2000, dari seluruh infeksi klamidia tercatat 34% dan 40% dari Ghonorhoe pada perempuan dewasa, terdapat pada remaja perempuan. Berbagai laporan di Indonesia menunjukkan bahwa kelompok umur paling banyak menderita IMS adalah kelompok umur muda. Selama 2 tahun (1993-1994) di Rumah Sakit Pringadi Medan untuk penyakit kondiloma akuminata tercatat 35,4% adalah penderita kelompok umur 20-24 tahun, 33,3% dari kelompok umur 25-29 tahun. Selama 4 tahun (1990-1994) di Rumah Sakit Dr.Kariadi Semarang tercatat 3803 kasus IMS pada unit rawat jalan,1325 kasus(38,8%) adalah penderita umur 15-24 tahun,dan tercatat 1768 orang (46,5%) adalah umur 25-34 tahun.
Demikian juga halnya di Rumah Sakit Umum Pemerintah Sanglah Denpasar, tercatat 59,1% dari penderita IMS yang tercatat antara tahun 1995-1997 adalah kelompok remaja. (Soetjiningsih, 2004) Berdasarkan penelitian di berbagai kota besar di Indonesia, sekitar 20%-30% remaja mengaku pernah melakukan hubungan seks. Ancaman pola hidup seks bebas remaja secara umum baik dipondokan atau kos-kosan tampaknya berkembang semakin serius. Pakar seks di Jakarta mengungkapkan, dari tahun ke tahun data remaja yang melakukan hubungan seks bebas semakin meningkat. Dari sekitar 5% pada tahun 1980-an, menjadi 20% pada tahun 2000. Kisaran angka tersebut, menurut Dr.Boyke, dikumpulkan dari berbagai penelitian dibeberapa kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, Palu, dan Banjarmasin. Bahkan di Pulau Palu, Sulawesi Tenggara, pada tahun 2000 lalu tercatat remaja yang pernah melakukan hubungan seks pra nikah mencapai 29,9%. (Majalah Gemari, 2001) Dilihat dari sisi kesehatan, bahaya perilaku seks bebas bisa menimbulkan berbagai gangguan. Diantaranya, terjadi kehamilan yang tidak diinginkan. Selain tentunya kecenderungan untuk aborsi, juga menjadi salah satu penyebab munculnya anak-anak yang tidak diinginkan.
Seks bebas juga bisa meningkatkan resiko kanker mulut rahim. Jika hubungan seks tersebut dilakukan sebelum usia 17 tahun, resiko terkena penyakit tersebut bisa mencapai empat hingga lima kali lipat. Selain itu, bahaya seks bebas akan meningkatkan kasus penyakit menular seksual, seperti sipilis, Ghonorhoe (GO), hingga Humman Immunodeficiency Virus (HIV) atau Acquired Immune Deficiency Syndrom (AIDS). (Majalah Gemari, 2001). Hasil survey yang dilakukan peneliti pada tanggal 18 Februari di SMA Negeri 2 Bulukumba menunjukkan bahwa pengetahuan siswa tentang bahaya seks bebas dalam kategori cukup atau 57 %.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah maka penulis mengambil Rumusan Masalah yaitu “Bagaimanakah pengetahuan dan sikap remaja tentang bahaya seks bebas di SMA Negeri 2 Bulukumba?”
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum Adapun tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengetahuan dan sikap remaja tentang bahaya seks bebas di SMA Negeri 2 Bulukumba
2. Tujuan Khusus Dengan memperhatikan masalah dan permasalahan dikemukakan diatas maka tujuan khusus dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Diketahuinya pengetahuan remaja tentang bahaya seks bebas di SMA Negeri 2 Bulukumba
b. Diketahuinya sikap remaja tentang bahaya seks bebas di SMA Negeri 2 Bulukumba
D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi:
1. Bagi Remaja Untuk menambah pengetahuan dan pemahaman bagi remaja tentang bahaya seks bebas.
2. Bagi Negeri 2 Bulukumba Dengan adanya penelitian ini maka penulis berharap bahwa penelitian ini akan bermanfaat dan berguna untuk dijadikan bahan masukan bagi penelitian selanjutnya.
3. Bagi Peneliti Selanjutnya Sebagai sumber referensi dan bacaan untuk peneliti selanjutnya dalam kaitannya dengan pengetahuan dan sikap remaja tentang bahaya seks bebas.
BAB II
Kajian pustaka
a. Pengertian Pergaulan Bebas
Seks bebas merupakan tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual yang ditujukan dalam bentuk tingkah laku. Faktor-faktor yang menyebabkan seks bebas karena adanya pertentangan dari lawan jenis, adanya tekanan dari keluarga dan teman. Dari tahun ke tahun data remaja yang melakukan hubungan seks bebas semakin meningkat, dari 5% ada tahun 1980-an menjadi 20% di tahun 2010. telah dilakukan penelitian mengenai gambaran pengetahuan remaja tentan seks bebas di SMA Negeri 2 Bulukumba
Penelitian ini menggunakan kuesioner yang diajukan responden dengan jumlah sampel 50 responden. Hasil penelitian yang terlibat pergaulan tidak baik sebanyak 50,9% sedangkan remaja yang memperoleh sumber informasi tentang seks bebas sebanyak 47,6% dan remaja yang keadaan ekonominya baik sebanyak 35,6% serta remaja yang berpengetahuan cukup tentang seks bebas sebanyak 43% sedangkan baik dan kurang masing-masing sebanyak 28,5%.
Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kurangnya pengetahuan remaja tentang seks bebas disebabkan karena kurangnya kesadaran remaja tentang keadaannya dan tidak ada keterbukaan antara orang tua dan anaknya.
Munculnya istilah pergaulan bebas seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan tekhnologi dalam peradaban umat manusia, kita patut bersyukur dan bangga terhadap hasil cipta karya manusia, karena dapat membawa perubahan yang positif bagi perkembangan/kemajuan industri masyarakat. Tetapi perlu disadari bahwa tidak selamanya perkembangan membawa kepada kemajuan, mungkin bisa saja kemajuan itu dapat membawa kepada kemunduran. Dalam hal ini adalah dampak negatif yang diakibatkan oleh perkembangan iptek, salah satunya adalah budaya pergaulan bebas tanpa batas.
Dilihat dari segi katanya dapat ditafsirkan dan dimengerti apa maksud dari istilah pergaulan bebas. Dari segi bahasa pergaulan artinya proses bergaul, sedangkan bebas artinya terlepas dari ikatan. Jadi pergaulan bebas artinya proses bergaul dengan orang lain terlepas dari ikatan yang mengatur pergaulan.
Islam telah mengatur bagaimana cara bergaul dengan lawan jenis. Hal ini telah tercantum dalam surat An-Nur ayat 30-31. Telah dijelaskan bahwa hendaknya kita menjaga pandangan mata dalam bergaul. Lalu bagaiamana hal yang terjadi dalam pergaulan bebas? Tentunya banyak hal yang bertolak belakang dengan aturan-aturan yang telah Allah tetapkan dalam etika pergaulan. Karena dalam pergaulan bebas itu tidak dapat menjamin kesucian seseorang.
b. Remaja
Remaja dalam arti bahasa latin adalah adolescere yang berarti "tumbuh" dan dalam arti kata adalah tahap transisi fisik dan mental. Menurut Erik Erikson tahap – tahap perkembangan manusia, misalnya, seorang dewasa muda umumnya orang antara usia 20 dan 40, sedangkan seorang remaja adalah orang antara usia 13 dan 19. Secara historis, pubertas telah banyak dikaitkan dengan remaja dan awal pembangunan remaja. Namun, awal pubertas memiliki sedikit dari peningkatan preadolescence (terutama perempuan, seperti terlihat dengan puberitas dini dan dewasa sebelum waktunya ), dan remaja telah memiliki ekstensi sesekali luar masa remaja (biasanya pria) dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Perubahan ini telah membuat lebih sulit untuk kaku menentukan kerangka waktu di mana remaja terjadi. Pubertas adalah masa beberapa tahun yang pertumbuhan fisik yang cepat dan perubahan psikologis terjadi, yang berpuncak pada kematangan seksual. Onset rata-rata pubertas adalah pada 10 untuk anak perempuan dan usia 12 untuk anak laki-laki
BAB III
Metode penelitian
A. Lokasi penelitian
Lokasi penelitian bertempat di kampus SMA NEGERI 2 BULUKUMBA.
B. Populasi dan sampel
Menentukan Populasi dan Sampel Populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang dapat berupa manusia, benda dan sebagainya yang menjadi objek penelitian.Dapat disimpulkan bahwa populasi adalah semua anggota kelompok manusia atau individu, yang merupakan objek dari suatu penelitian. Dalam penelitian ini, peneliti mengambil populasi sebagai daerah peneliti yaitu semua SMA NEGERI 2 BULUKUMBA. Dari populasi ini jumlahya sanagatlah banyak, bahkan puluhan siswa karena ini adalah populasi siswa SMA NEGARI 2 BULUKUMBA.
C. Tehnik pengumpulan data
Sampel adalah sebagian yang diambil dan keseluruhan dari objek yang sedang diteliti, yang mewakili seluruh populasi dengan memakai atau menggunakan teknik tertentu. Berdasarkan uraian diatas, tidak semua SMA NEGERI 2 BULUKUMBA dijadikan Sampel. Maka peneliti mengambil salah satu sampel yaitu Siswa-siswi SMA NEGERI 2 BULUMBA, karena mereka dianggap bisa mewakili dari SMA NEGERI 2 BULUKUMBA. Sebab mereka dikategorikan Siswa-Siswi yang sangat teladan.
D. Teknik analisis data
Dalam memperoleh data dari para sumber berita, teknik penelitian yang saya gunakan ialah Teknik ini dilakukan dengan cara mewawancarai seorang teman tersebut. Langkah yang ditempuh agar mendapatkan informasi dari Narasumber secara detail.
1)Membuat perbincangan Awal dengan seorang teman tersebut sambil menciptakan suasana yang hangat.
2)Mulai memberi pertanyaan dengan bahasa yang sopan dan tidak menyinggung perasaan orang yang sedang diwawancarai.
3)Mulai membuat dan menyusun data untuk laporan penelitian berdasarkan keterangan yang teleh di jelaskan oleh Narasumber.
4)Menghitung prosentase pendapatan Narasumber yang setuju atas ajakan untuk meningkatkan mutu remaja, agar tidak banyak yang terjerumus ke pergaulan yang bebas. Narasumber yang saya wawancarai sebanyak 4 orang, dan yang setuju dengan pendapat saya sebanyak 3 orang. Rumus yang digunakan adalah Jumlah narasumber yang di wawancarai dibagi dengan jumlah Narasumber yang setuju dan dikalikan dengan 100% 5/3 x100%= 166,67%
BAB IV
HASIL DAN PENGEMBANGAN PENELITIAN
A. Hasil Penelitian. Kita tentu tahu pergaulan bebas itu adalah salah satu bentuk perilaku yang menyimpang , yang mana "bebas" itu dimaksud melewati batas-batas norma ketimuran yang ada. Masalah pergaulan bebas ini sering kita dengar baik di linkungan maupun di media masa. Remaja adalah individu yang labil emosinya rentan tidak terkontrol oleh pengendalian diri yang benar. Masalah Keluarga,kekecewaan, dan ajakan-ajakan teman yang bergaul bebas makin berkurangnya potensi generasi muda Indonesia dalam kemajuan bangsa.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pada dasarnya kesimpulan pergaulan bebas itu adalah Tergantung pada remaja itu sendiri, kalau dia melakukan pergaulan bebas atau tidak. Jika para generasi muda menginginkan perubahan sebaiknya mereka memiliki bimbingan untuk melakukan hal yang memang patut mereka lakukan. Itu semua kembali pada diri tiap remaja itu masing-masing dan juga dukungan dari lingkungan baik itu dari keluarga,masyarakat,dan juga sekolah. Karena perubahan itu memerlukan dukungan dari seseorang yang sayang sama kita. Terutama dari orang tua kita. Semua orang pasti butuh kasih sayang dari orang tua.
B. Saran
Bagi para pembaca marilah kita bersama-sama ikut adil dalam menerapkan "Hidup gaul tanpa HIV/AIDS, baik dengan menjadi individu yang menjauhi pergaulan bebas dan juga dalam memotivasi kepada orang-orang di sekeliling kita. Dalam hal ini media massa juga menampilkan hal-hal positif yang perlu dilakukan. Bukan malah menampilkan flim-flim yang menunjukkan hebohnya gemerlap dunia malam dan maraknya pergaulan bebas yang disalah tafsirkan merupan suatu kebanggaan para remaja. Sehingga hal tersebut menjadi makanan sehari-hari. Semua pihak perlu berperan untuk menanamkan "gaul tanpa HIV/AIDS." Terutama diri kita sendiri.
Komentar
Posting Komentar